CERPEN - Rezeki di RS Purut

Rezeki di RS Purut
“Bangun Nak, kita sahur dulu!” peluk erat sang Bapak membangunkan anaknya.
“ehmm iya pak, memang hari apa sekarang?” bergegas bangun menuju ruang tengah yang beralaskan tikar.
“Hari Selasa Dit, kita puasa saja karna tak ada yang kita makan untuk hari ini.” Jawab Bapak dengan tak kuasa menatap anaknya.
“Dit, Bapak harap kamu bisa mengerti keadaan kita saat ini, walaupun kita kekurangan, Bapak harap kau bisa sabar dan tak berharap belas kasih dari orang lain.
Sumber Gambar : http://kotapasuruan.esy.es/layout/images/1.jpg
Adit hanya bisa mengangguk dan sangat memahami keadaannya saat ini. Dia anak semata wayang yang tinggal dengan Bapaknya. Semenjak ibunya meninggal 2 tahun yang lalu, 2 kakak Adit pergi merantau ke negeri sebrang. Tak ada kabar yang datang dari dua saudaranya itu. Hanya doa yang slalu terucap oleh Adit dan Bapaknya. Sehari-hari Bapak Adit bekerja sebagai tukang becak. Mengayuh dari Rejoso ke alun-alun kota Pasuruan sudah dilakoninya 3 tahun.
Menjelang subuh Bapak Adit sudah melaksanakan rutinitasnya sembari melaksanakan sholat Subuh berjamaah di Masjid Jami’ Pasuruan. “IKHLAS” itulah pedomannya.
Hampir setiap hari, Bapak Adit mengganjal perutnya hanya dengan wedang jahe hangat. Menuju rumah penumpang langganannya yaitu anak SD Al Kautsar. Baginya pemasukan rutin lima ribu rupiah sangat berarti bagi sesuap nasi yang bisa dimakan  dengan Adit.
Suatu hari penumpang langganannya tidak masuk sekolah. Bapak Adit resah dan berusaha mencari penumpang lainnya. Ke Pasar Senggol yang menjadi tujuannya.
“Angkut barang..angkut barang…Becak..Becak..Selamat sampai tujuan..” guraunya berharap ada penumpang yang menyuruhnya.
“Cak, bisa antar beras ini ke jalan PangSud ya?” tanya seorang ibu tua di pasar
“Sangat bisa Bu, Insyaallah selamat sampai tujuan” canda Bapak Adit dengan girangnya sembari menerima upah Rp. 10.000,-
Dengan semangat dan penuh tanggung jawab Bapak Adit mengayuh becak menuju Jalan Panglima Sudirman Gg. Samping Indomaret. Terlihat awan mendung, bapak Adit memasang plastik di becaknya. Walaupun hujan mengguyur cukup deras, Bapak Adit tak menghiraukan dirinya meskipun tak mengenakan mantel, baginya barang orang lain yang diutamakan aman.
Seketika itu hujan bertambah deras dengan disertai angin kencang. Bapak Adit  bingung antara harus menepi sejenak atau melanjutkannya. Teringat pesan Ibu tua yang menyuruhnya barang harus tiba sebelum dhuhur, akhirnya Bapak Adit melanjutkan perjalanan tanpa harus memikirkan keselamatannya.
“Adit, ikut pak lek sekarang!” ajak tetangga
“Kemana Pak lek? Adit bertanya tanya melihat pak lek yang kebingungan.
Tanpa menjawab sepatah kata apapun, tetangga itu langsung memboncengnya menuju rumah sakit Purut.
“Dit, bapak kamu tertimpa pohon besar waktu ngirim barang di sekitar jalan Pangsud,. Bapak kamu mengalami perdarahan di kepalanya. Tapi jangan cemas kita berdoa saja, dokter sudah menanganinya.” Jawab tetangga menenangkan Adit
“Ada saudaranya Pasien?” tanya pak Dokter
“ Saya Pak, anak kandungnya. Gimana dengan Bapak saya Dok?” tanya Adit cemas
“Pasien mengalami perdarahan yang cukup hebat, butuh tranfusi darah.” Dokter menjawab dan menatap wajah Adit
“Ambil darah saya Dok. Golongan darah saya sama dengan Bapak!”
Dokterpun segera memrosesnya. 1 Jam setelah tranfusi darah, terlihat Bapak Adit membuka mata dan menatap Adit.
“Bapak .Alhamdulillah Bapak sadar.” Adit menangis sedu
“Dit, kita bayar pake uang apa Dit? dengan meneteskan air mata
“Bapak jangan khawatir. Adit berusaha mencari pinjaman uang untuk biaya rumah sakit Bapak.” Meyakinkan Bapak dan hanya pasrah pasti ada solusi untuk kita
“Dit, jangan cari pinjaman ke orang lain tapi tolong jual saja becak ini ke tetangga kita yang butuh.” Saran Bapak Adit walau berat hati menjual becak yang sehari-hari dikayuh untuk kehidupannya.
Adit bergegas pergi tanpa berpikir panjang. Yang dia utamakan adalah keselamatan bapaknya dan segera bisa pulang ke rumah.
Menuju rumah tetangga yang kesehariannya juga mengayuh becak. Adit minta tolong agar berkenan membelinya untuk biaya rumah sakit bapaknya. Alhamdulillah tetangga itu mau tapi hanya bisa membelinya dengan harga lima ratus ribu rupiah. Adit pun mengiyakan, baginya uang segitu mungkin cukup buat bayar rumah sakit. Bergegas Adit menuju loket rumah sakit.
Terkejut Adit melihat nominal Rp. 2.750.000,-.
“Mbak, apa saya harus membayar penuh biya sebesar ini?” tanya Adit keheranan
“Iya , total yang harus dibayar sekian.” Kata penjaga loket sembari menunjukkan rinciannya.
“Mbak saya hanya ada uang lima ratus ribu rupiah. Tapi saya berjanji akan melunasinya 1 bulan ini.” Pinta Adit memohon
“Tidak bisa, ini nominal yang harus dibayar” jawab penjaga loket tegas
“Termenung Adit di kursi depan pintu kamar Bapaknya. Terlihat Dokter yang baru keluar dari ruangan, Adit mengahampirinya.
“Dok, saya minta tolong ijinkan Bapak saya untuk rawat jalan saja, kita tak sanggup untuk biaya rumah sakit. Barusan hanya lima ratus ribu rupiah yang saya bayar, kekurangannya saya akan berusaha melunasinya.” Rengek Adit
“Dit, baru saja saya juga ngobrol dengan Ayahmu. Saya mengerti keadaan kalian. Saya jadi teringat almarhum ayah saya yang dulu juga tukang becak. Sabar Dit, kehidupan itu ada masanya. Dimana nanti pasti ada hikmah dan hadiah yang tersembunyi. Yakinlah Allah merencanakan hal terindah untuk kita.” Memberi pengertian ke Adit
“Terima kasih, Pak. Barangkali Dokter bisa membantu kami.” Keluh Adit
Dokter itupun tersenyum ramah.
Adit gelisah sambil berjalan menghampiri Bapaknya.
“Dit, kesini ada berita bahagia untuk kita.” Tersenyum Bapak Adit menyampaikan berita bahwa baru saja dokter yang memeriksa menyampaikan tentang biaya rumah sakit.
“ Kita tak perlu cemas dengan biaya rumah sakit. Pak Dokter tadi yang akan membantu kita dan menanggungnya.” Tangis haru mengantar kebahagiaan mereka
“Alhamdulillah…” memeluk erat bapaknya.
“Sewaktu bapak tertimpa pohon besar, Bapak sedang mengangkut beras 5 sak yang disuruh oleh ibu-ibu tua di pasar. Beralamatkan di jalan Panglima Sudirman tepatnya di samping Indomaret. Ternyata bapak juga baru tau kalau pemilik rumah di alamat itu adalah Pak Dokter tadi.” Ungkap Bapak Adit
“Dan Dokter tadi juga bilang, jika setelah Bapak sembuh nanti, Pak Dokter akan memberikan pekerjaan untuk Bapak yaitu menjadi cleaning service di Rumah Sakit Purut ini, nanti Pak Dokter itu yang akan mengajukannya ke pihak rumah sakit.” Tambahnya
Adit menangis haru dan meyakini bahwa Allah akan menguji hambaNya sesuai kemampuannya. Alhamdulillah apa yang tidak diharapkan oleh tukang becak ini ternyata membawa hadiah bagi dirinya.
“Terima kasih ya Allah Engkau yang mengatur segalanya.” Ucap syukur Bapak Adit dalam sujud syukurnya.
Adit dan Bapaknya pun segera menemui Pak Dokter yang membantunya. Karena kedermawanannya sangat berarti baginya. Mereka juga berterima kasih kepada pihak rumah sakit Purut yang sudah menangani dan melayani ketika sakit. Kebaikan seluruh pihak rumah sakit tak akan pernah hilang dalam memorinya.
Semoga Rumah Sakit Purut makin jaya, semakin membawa manfaat untuk warga, dan dijadikan amal bakti untuk semuanya. Amiiin



BIODATA
Nama                          : M Hidayatullah
NIS                              : 2122/533.072
Kelas                           : X MM 2
Program Keahlian        : Multimedia
Sekolah                       : SMK Muhammadiyah 1 Pasuruan
                                     Jalan KH. Wakhid Haasyim 202 kota Pasuruan 
Telp.                          : 0343-419 548
 No. HP                       : 085 851 907 306

Merupakan Karya Siswa yang diikutkan dalam Lomba Cerpen RS Dr. Soedarsono Kota Pasuruan.





Share on Google Plus

About FIQO Al Fatih

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan Saran dan Masukan yang baik dalam pengembangan Blog ini.